Dari Disiplin Positif hingga Ekoteologi-Konsep Revolusioner Dr. Abdul Basit untuk Pendidikan Berkualitas

Nilai -Nilai Disiplin Positif hingga Ekoteologi-Konsep Revolusioner Dr. Abdul Basit untuk Pendidikan Berkualitas


YALWASH9.ORG – Rapat Kerja Tahunan Yayasan Al Wathoniyah Asshodriyah 9 menghadirkan narasumber kompeten, Bapak Dr. Abdul Basit, S.Ag., M.M., Kasubdit Kurikulum dan Evaluasi Direktorat KSKK Madrasah Kementerian Agama RI, yang memaparkan konsep pendidikan berkarakter di Aula Masjid Jami Shodri Asshiddiq, Jakarta Timur (10/7/2025). Dengan lugas, beliau menekankan bahwa lembaga pendidikan harus memiliki distingsi atau ciri khas yang menjadi daya tarik utama bagi orang tua.


"Pendidikan berkarakter bukan sekadar slogan, melainkan identitas yang harus terinternalisasi dalam setiap aspek pembelajaran," tegas Bapak Doktor di hadapan 338 peserta rapat. Beliau menjelaskan bahwa distingsi ini harus berkembang menjadi kultur melalui proses konsisten, bukan sekadar program temporer.

Pakarnya pendidikan ini membedah konsep disiplin dengan pendekatan baru. "Disiplin positif yang dibangun dari pemahaman jauh lebih efektif daripada disiplin negatif yang mengandalkan sanksi," ujarnya. Beliau memperkenalkan konsep ekoteologi sebagai pendekatan agama yang menghadirkan cinta dalam kurikulum, dengan Al-Qur'an sebagai landasan utama.

Di era disrupsi teknologi, Dr. Basit menyarankan strategi bijak: "Hadapi pengaruh global dengan memperkuat kearifan lokal, justru memanfaatkan teknologi untuk mempublikasikan nilai-nilai lokal kita." Beliau mengingatkan bahwa tantangan terbesar pendidikan hari ini adalah mempersiapkan peserta didik yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas.

"Guru jangan terjebak pada capaian pembelajaran tekstual semata," tegasnya. "Yang dibutuhkan adalah guru yang mampu berperan sebagai fasilitator dan pendamping, yang tidak hanya hadir fisik tetapi juga menghadirkan hati di setiap interaksi pembelajaran."

Khusus untuk Yayasan Al Wathoniyah, Dr. Basit memberikan arahan strategis:

1. Pengembangan visi besar dengan ciri khas yang jelas

2. Kepemimpinan visioner yang mampu menterjemahkan visi yayasan

3. Penguatan peran keluarga dalam ekosistem pendidikan

4. Pembentukan kultur belajar yang khas dan berkelanjutan

Pendidikan berdistingsi adalah yang mampu mencetak lulusan tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga kuat karakter dan spiritualitasnya," pungkas Dr. Basit menutup sesi yang berlangsung selama 90 menit ini.

Presentasi ini mendapatkan apresiasi tinggi dari peserta, terutama ketika beliau mencontohkan praktik baik madrasah unggulan yang berhasil memadukan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai keislaman. Beberapa kepala sekolah langsung berdiskusi untuk mengimplementasikan ide-ide tersebut di lembaga masing-masing

LINK TERKAIT