
Drs. KH. A. Shodri HM., lahir di Cakung, Jakarta Timur pada tanggal 1 Januari 1953. Beliau merupakan putra ketiga dari delapan bersaudara, lahir dari pasangan Guru Haji Muhir bin Fuan dan Hj. Ma`ani binti Salim. Gelar "HM" di belakang nama beliau merupakan singkatan dari nama ayahnya, Haji Muhir. Kehilangan sang ayah di usia muda, KH. Ahmad Shodri berjuang sendiri untuk menimba ilmu, dan merawat peninggalan orangtua berupa bangunan musholla tua.
Drs. KH. A. Shodri HM
PROFIL PIMPINAN
Drs. K.H. Ahmad Shodri HM,
“Menerangi Jalan Pendidikan dengan Semangat Tak Pernah Padam”
Drs. KH. A. Shodri HM., lahir di Cakung, Jakarta Timur pada tanggal 1 Januari 1953. Beliau merupakan putra ketiga dari delapan bersaudara, lahir dari pasangan Guru Haji Muhir bin Fuan dan Hj. Ma`ani binti Salim. Gelar "HM" di belakang nama beliau merupakan singkatan dari nama ayahnya, Haji Muhir. Kehilangan sang ayah di usia muda, KH. Ahmad Shodri berjuang sendiri untuk menimba ilmu, dan merawat peninggalan orangtua berupa bangunan musholla tua. Namun, tekad kuat dan semangat yang terus menyala menuntun beliau untuk menjadikan peninggalan tersebut sebagai pondasi kuat dalam menjalankan misi luhurnya.
Sosok kyai kampung dengan pemikiran orang kota, itulah gambaran yang tepat untuk menggambarkan Kyai Shodri. Meskipun lahir dan besar di lingkungan kampung, pemikirannya selalu maju dan visioner. Beliau memiliki visi yang luas tentang pendidikan dan masa depan bangsa.
Kecintaan KH. Ahmad Shodri terhadap ilmu pengetahuan telah tertanam sejak usia muda. Beliau mengaji kepada para ulama dan habaib terkemuka, di antaranya KH. Ali Syibromalisi Bin Guru Mughni, Muallim KH. M. Syafi`i Hadzami, KH. Hasbiyallah, pendiri dan pimpinan Perguruan Islam Al Wathoniyah Pusat, KH. Muhajirin Amsar ad Dari, Habib Ali Bungur, Habib Ali Kwitang. Perjuangan beliau untuk menuntut ilmu tak kenal lelah, terbukti dengan pengalamannya tinggal di loteng madrasah Kyai Ali Syibromalisi dan membersihkan kandang sapi. Beliau juga pernah mempelajari Qira’ah di salah satu pesantren di Banten, di daerah Citangkil, serta menimba ilmu dari ulama Betawi dan para Habaib lainnya. Semangat dan tekad kuat yang tertanam sejak kecil terus membawa KH. Ahmad Shodri untuk menjalankan misi luhurnya di dunia pendidikan dan kehidupan beragama.
Selain berdedikasi pada dunia pendidikan, KH. Ahmad Shodri juga aktif dalam berbagai organisasi keagamaan. Beliau pernah menjabat sebagai Ketua Umum Forum Ulama dan Habaib Betawi (FUHAB)Tahun 2008-2013, Ketua Umum MUI Kota Jakarta Timur Tahun 2005-2020, danmenjabat sebagai Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (Jakarta Islamic Centre)Tahun 2013-2020. Peran-peran penting ini mencerminkan kepeduliannya terhadap kehidupan beragama dan komitmennya dalam membina masyarakat yang religius. Pengalaman dan wawasan yang diperoleh dari organisasi keagamaan ini membantu beliau dalam menjalankan tugas-tugas penting di bidang pendidikan dan pengembangan Islam.
Kualitas kepemimpinan Kyai Shodri terbentuk dari pengalaman, wawasan, dan semangat yang tak pernah padam. Beliau memiliki pengetahuan agama yang mendalam, terbukti dari dedikasinya dalam menuntut ilmu agama, mengaji kepada para ulama dan habaib terkemuka, serta mendalami khazanah kitab-kitab klasik. Pengalaman memimpin berbagai organisasi keagamaan seperti FUHAB dan MUI Kota Jakarta Timur menunjukkan kemampuan beliau dalam memimpin, berkolaborasi, dan memahami dinamika organisasi keagamaan.
Komitmen beliau terhadap pendidikan terlihat dari pengabdiannya dalam dunia pendidikan dengan mendirikan dan memimpin Yayasan Pendidikan Al Wathoniyah 9 yang menaungi berbagai lembaga pendidikan. Ini menunjukkan komitmen beliau dalam mencerdaskan bangsa dan membangun generasi penerus yang berakhlak mulia. Dedikasi beliau terhadap pengembangan Islam terlihat dari pendirian Masjid Jami Shodri Asshiddiq dan Pesantren Tahfiz Al Quran Asshodriyah 9, menunjukkan kepeduliannya terhadap pengembangan Islam dan keinginan untuk menebarkan nilai-nilai agama kepada masyarakat.
Kedekatan KH. Ahmad Shodri dengan beberapa ulama dan habaib terkemuka menjadi bukti nyata dari kepribadian beliau yang santun dan mendalam. Beliau memiliki kedekatan khusus dengan Muallim Syafi'i Hadzami, beliau sering berdiskusi kepada Muallim dan berbagi cerita tidak hanya tentang ilmu, tetapi juga hal-hal lain yang tidak pernah Muallim ceritakan kepada murid-murid lainnya. Salah satu pengalaman menarik adalah ketika Kyai Shodri bertanya kepada Muallim tentang alasan Muallim mencium tangan Habib Husin bin Ali Al Attas yang masih muda, Muallim menjawab, "Menghormati ayahnya, Habib Ali Al Attas." Kedekatan beliau dengan Habib Ali Bin Abdurrahman Assegaf juga sangat erat, sampai Habib Ali menyampaikan, "Tidak semua kyai dapet keberkahan, Kyai Shodri banyak mendapat keberkahan." Kedekatan beliau dengan Habib Husin bin Ali Al Attas juga terlihat dari kepercayaan Habib Husin kepada Kyai Shodri untuk mengatur acara Haul Orang Tua Habib Husin, yaitu Habib Ali Al Attas, selama kurang lebih 10 tahun.
Meskipun usia telah memasuki 72 tahun, semangat KH. Ahmad Shodri untuk terus mengaji dan mendalami khazanah kitab-kitab klasik tak pernah redup. Selama masa hidup Habib Ali Bin Abdurrahman Assegaf, Kyai Shodri mengaji kitab Tarbiyyatul Aulad setiap senin malam di minggu pertama tiap bulannya. Beliau masih aktif menyelenggarakan pengajian di Masjid Jami Shodri Asshiddiq setiap Selasa ba’da shubuh, dengan kajian kitab karya Ulama Jakarta, Mishbah al Zhalam, yang ditulis oleh KH. Muhajirin Amsar Ad Daari, Ulama Ahli Hadits dari Betawi. Selain itu, Kyai Shodri juga menyelenggarakan pengajian rutin untuk para guru dan karyawan setiap Kamis malam Jum’at, pengajian malam Kamis untuk kaum ibu, serta Sabtu malam minggu ba’da Maghrib yang diperuntukan untuk kaum bapak dan warga sekitar yayasan.
Setelah tamat dari sekolah rakyat pada tahun 1966, Kyai Shodri melanjutkan pendidikannya di Al Wathoniyah Pusat hingga tingkat Aliyah. Kemudian, beliau meneruskan pendidikannya ke Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Setelah itu, beliau melanjutkan kuliah di IKIP Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta atau UNJ) jurusan Bahasa Arab dan mendapat gelar doctorandus pada tahun 1981.
Berbekal pendidikan yang diperoleh, Kyai Shodri mengabdikan diri sebagai guru pendidikan agama Islam di beberapa sekolah negeri di Jakarta, di antaranya SMA Negeri 51 Jakarta, dan SMA Negeri 44 Jakarta. Ditengah kesibukan beliau sebagai seorang Guru Agama di beberapa sekolah, Beliau masih menyempatkan diri untuk mengajar di berbagai majelis ta’lim, serta mengisi ceramah di berbagai masjid dan majelis ta'lim di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya. Dedikasi beliau dalam menyebarkan ilmu agama dan nilai-nilai luhur Islam telah menginspirasi banyak orang. Beliau dikenal sebagai tokoh agama yang bijaksana, santun, dan memiliki pengetahuan agama yang mendalam.
Drs. KH. A. Shodri HM., menjalani bahtera rumah tangga dengan Ibu Hj. Siti Mahwa, BA, dan dikaruniai empat orang anak, dua lelaki dan dua perempuan. Keharmonisan keluarga menjadi pondasi kuat bagi beliau dalam menjalankan misi luhurnya di dunia pendidikan dan membina masyarakat yang lebih baik. Sebagai murid KH. Hasbiyallah, Kyai Shodri turut mendirikan cabang Perguruan Islam Al Wathoniyah, yaitu Al Wathoniyah 9 (Yayasan Al Wathoniyah Asshodriyah 9) pada tahun 1982 dengan akta notaris Ny. S. Kamariah Suparwo, SH pada tanggal 7 Agustus 1985.
Tak hanya berdedikasi pada dunia pendidikan, Kyai Shodri juga menaruh perhatian besar terhadap kehidupan beragama. Beliau mendirikan Masjid Jami Shodri Asshiddiq yang megah di Jalan Dr. Soemarno, yang resmi berdiri pada Tahun 2017 diatas tanah Wakaf dari Almarhum H. M. Taufiq bin H. M. Sidik. Masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi Peserta Didik, Guru dan karyawan Yayasan, serta menjadi tempat Ibadah bagi masyarakat.
Beliau juga mendirikan Pesantren Tahfiz Al Quran Asshodriyah 9 di Masjid Jami Shodri Asshiddiq dan Asshodriyah Islamic School di Jatibening, sebagai bentuk komitmen beliau dalam melahirkan generasi penerus yang berakhlak mulia dan menguasai ilmu agama. Pendirian pesantren dan sekolah Islam ini menunjukkan komitmen KH. Ahmad Shodri dalam melahirkan generasi penerus yang berakhlak mulia dan menguasai ilmu agama.
Pada saat awal berdiri, Yayasan tersebut menggeluti bidang pendidikan formal, yaitu: Madrasah Diniyah (1982), TK Al Wathoniyah 9 (1982 s.d sekarang), MTs Al Wathoniyah 9 (1983), MA Al Wathoniyah 9 (1984), SMA Yapenwa 9 (1988), SMEA Yapenwa 9 (1990), SD Al Wathoniyah 9 (1986 s.d. sekarang), SMP Al Wathoniyah 9 (1988 s.d. sekarang), SMK Dinamika Pembangunan 1 Jakarta (1994 s.d. sekarang), dan SMK Dinamika Pembangunan 2 Jakarta (1996 s.d. sekarang).
Di bawah kepemimpinan beliau, saat ini Yayasan Al Wathoniyah Asshodriyah 9 memiliki ribuan peserta didik dan membawahi ratusan pendidik dan tenaga kependidikan dari tingkat TK s.d. SMK Dinamika Pembangunan 1-2 Jakarta, serta telah menamat puluhan ribu lulusan setiap jenjangnya.Kyai Shodriberpandangan bahwa upaya strategis dalam membina masyarakat agar lebih baik ke depan adalah melalui pendidikan. KH. Ahmad Shodri terus berusaha untuk menebarkan ilmu pengetahuan dan membangun generasi penerus bangsa yang berakhlak mulia, cerdas, dan berdaya saing. Sering kali, beliau menekankan pentingnya kedisiplinan dan pendidikan serta keterampilan dalam membentuk generasi yang unggul.
Kisah singkat Drs. KH. Ahmad Shodri HM. menginspirasi kita semua untuk terus berjuang dan menebarkan kebaikan, tak kenal lelah dalam menjalankan misi hidup yang luhur. Beliau menunjukkan bahwa semangat yang tak pernah padam dan dedikasi yang tinggi dapat menghasilkan buah manis bagi generasi penerus bangsa. Semoga kisah beliau dapat menjadi motivasi bagi kita semua untuk terus berikhtiar dalam memajukan dunia pendidikan dan menyiapkan generasi emas yang akan mewujudkan masa depan yang cerah bagi Indonesia.