
Bapak Sukarno, ST., MM., dalam sambutannya, mengungkapkan rasa bangga dan haru atas keberangkatan para alumni. Beliau berpesan agar para alumni dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, menyerap ilmu dan pengalaman sebanyak mungkin, dan menjunjung tinggi nama baik sekolah dan bangsa Indonesia. Beliau juga menekankan pentingnya menjaga sikap dan perilaku yang baik selama menjalani magang di Jepang.
"Kerjasama ini merupakan langkah strategis bagi SMK Dinamika Pembangunan 2 Jakarta dalam meningkatkan kualitas lulusan dan menjembatani kesiapan mereka menuju dunia kerja," ungkap Ibu Siti Aliyah dalam sambutannya. "Kami yakin kerjasama ini akan memberikan manfaat besar bagi peserta didik kami dalam mendapatkan pengalaman praktis dan meningkatkan kesiapan mereka untuk bersaing di dunia kerja." Ibu Siti Aliyah menambahkan harapannya agar kerjasama ini tidak hanya berhenti di program PKL, tetapi b
Aula lantai 4 Gedung C mendadak berubah menjadi arena pertempuran kata-kata. Bukan pertempuran sesungguhnya, tentu saja, tapi pertarungan gagasan yang penuh semangat dalam debat calon ketua OSIS. Para calon, berdiri gagah di balik podium, bergantian menyampaikan visi dan misi mereka dengan suara yang bergema di sepanjang aula. Kata-kata mereka mengalir cepat, diselingi dengan argumen yang tajam dan penjelasan yang jelas. Para pendukung di barisan depan bersemangat meneriakkan sorak sorai untuk
Pelatihan Dukungan Psikologis Awal yang diselenggarakan di SMK Dinamika Pembangunan 2 Jakarta berfokus pada peningkatan kesejahteraan dan ketahanan mental para peserta didik. Tujuan utama pelatihan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman peserta didik tentang pentingnya kesehatan mental, memberikan kemampuan untuk menghadapi stres dan membangun resiliensi, serta membantu mereka menjaga kesejahteraan mental.
Drs. KH. A. Shodri HM., lahir di Cakung, Jakarta Timur pada tanggal 1 Januari 1953. Beliau merupakan putra ketiga dari delapan bersaudara, lahir dari pasangan Guru Haji Muhir bin Fuan dan Hj. Ma`ani binti Salim. Gelar "HM" di belakang nama beliau merupakan singkatan dari nama ayahnya, Haji Muhir. Kehilangan sang ayah di usia muda, KH. Ahmad Shodri berjuang sendiri untuk menimba ilmu, dan merawat peninggalan orangtua berupa bangunan musholla tua.